Total Tayangan Laman

Rabu, 12 November 2014

SINOPSIS LDK Love Doukyo (LIVING TOGETHER) J-MOVIE 2014 (Part 1)

Scene pembuka memperlihatkan seorang gadis SMA yang tengah berlari menerobos kerumunan siswa di lorong kelas yang terlihat ramai pada jam istirahat siang itu. Beberapa siswa yang melihatnya berlari segera menepi dan memberi jalan padanya.
 
Kemudian scene beralih pada seorang pemuda yang tengah berjalan dengan santai di halaman sekolah pada saat yang sama.
Kembali ke gadis itu, ia telah tiba di tempat dimana temannya berada. Temannya yang bernama Moe ini tengah menatap dengan was-was ke arah halaman atau lebih tepatnya ke arah pemuda yang tadi berjalan. Moe melihat kedatangan gadis itu dengan tatapan bimbang, dan si gadis balas menyemangatinya. Dengan segenap keberaniannya Moe berjalan menuju si pemuda tadi diikuti oleh gadis itu.
 
Dan ternyata si pemuda tadi merupakan idola di sekolah itu, terlihat dari ekspresi para gadis yang begitu takjub hanya dengan melihat pemuda itu lewat di depan mereka.
 
Beberapa gadis tampak penasaran melihat Moeberlari mendekat ke arah pemuda tadi. Setelah dirasa cukup dekat di belakang pemuda itu, Moe menghentikan langkahnya. Gadis sekaligus sahabatnya yang sedari tadi mengikutinya terlihat berdoa untuk Moe agar harapan Moedapat tercapai. Dan tiba saatnya Moe berteriak, “AKU MENYUKAIMU!” tepat di belakang pemuda tadi sehingga membuatnya menghentikan langkahnya.
 
Siswa lain yang mendengar teriakan Moe jelas saja terkejut dan justru semakin banyak yang penasaran ingin melihat kejadian itu (secara, nembak cowok di tengah halaman sekolah, jam istirahat siang pula.. gimana gak jadi tontonan?)

Si pemuda tadi berbalik menatap Moedengan ekspresi datarnya (WOW! Cakep bingo! Pantes diidolain cewek-cewek satu sekolah!! ^^). Dia menatap Moe dengan tatapan tak tertarik sedikitpun (keliatan sih, kejadian di tembak cewek kaya’ gini udah sering ia alami. Tampangnya biasa bangett.. >,<).

Dan akhirnya pemuda itu mulai berbicara,
“Begini”
“Ya!” jawab Moe
“Kau menyebalkan. Buruk. Aku tidak tertarik.” Tolak si pemuda mentah-mentah yang kemudian pergi meninggalkan Moe yang ditertawai oleh orang-orang yang sedari tadi menyaksikan peristiwa itu.
Moe terlihat begitu kecewa mendengar jawaban pemuda itu.
“Moe, maaf.. Bagaimana? Sepertinya tidak bagus.” Ucap dua orang temannya yang baru datang menghampiri mereka.
 
Gadis yang sejak tadi selalu bersama Moe jelas saja tak terima sekaligus geram kepada perlakuan pemuda tadi yang begitu kejam menolak sahabatnya seperti itu, ia bahkan sampai mengepalkan tangannya karena menahan amarah dan kemudian bergegas berlari yang membuat temannya bertanya-tanya,
“Aoi, kau mau kemana?” tanya seorang temannya penasaran.
Scene beralih saat pemuda tadi berjalan menaiki tangga di sekolahnya (sepertinya mau ke kelas deh dia…) dan ternyata Aoi sudah menunggunya tepat di ujung tangga, ia bahkan menghalangi jalan pemuda itu dengan menggunakan kakinya. Si pemuda jelas saja heran, dan menatap dengan penuh tanda tanya kepada Aoi.

“Jangan menghalangi jalanku.” Ucap pemuda itu (gak lihat tuh, muka Aoi udah kaya’ pengen makan orang? Hiih..)
Sementara Aoi masih menatap tajam ke arah pemuda itu.
“Moe penuh berani menyatakan cintanya padamu. Sulit dipercaya kau mengatakan hal itu kepadanya. Kau memang dingin..” ucap Aoi tak tahan menyimpan semua unek-uneknya sedari tadi.
“Kau siapa?” potong pemuda itu tiba-tiba.
“Temannya Moe, Nishimori Aoi.”
“Moe?”
“Gadis yang barusan menembakmu! Kau tahu, perasaan Moe padamu itu tulus.” Ucap Aoi kesal.
Tapi pemuda itu justru terus menatap Aoi yang membuat Aoi semakin gugup.
“Apa?” tanya Aoi makin gugup dengan sikap pemuda itu.
 
Melihat kegugupan Aoi, pemuda itu justru mendekatinya dan bahkan menghimpitnya ke tembok di belakangnya (Hadeh, scene ini sulit diungkapkan dengan kata-kata.. ^^).
Dengan wajah mereka yang saling berhadapan begitu dekat, si pemuda justru bertanya,
“Kau juga mau menembakku?”
Aoi jelas saja terkejut sekaligus gugup (ketahuan deh, pasti sebelumnya gak pernah sedeket itu sama cowok), bagaimana bisa pemuda ini sampai berpikiran seperti itu? Di tengah-tengah kegugupannya, si pemuda justru tersenyum mengejek ke arahnya yang sedari tadi tak mampu mengucapkan sepatah katapun. Tapi Aoi cepat-cepat membantahnya,

“TENTU SAJA TIDAK!” teriaknya sambil menjejakkan kakinya yang sedari tadi ditahan oleh pemuda itu tepat di perut sang pemuda.

“Uhh! Aaahh!!” teriak pemuda itu ketika terdorong ke belakang sehingga kehilangan keseimbangan dan terlempar dari atas tangga yang membuat buku-bukunya berterbangan di udara.
Aoi terkejut melihat akibat perbuatannya, dan dengan panic ia berteriak “GAWAT!” dan langsung turun untuk menolong pemuda itu.
 
Aoi menggendong pemuda tadi untuk mengantarnya sampai ke rumah (Woo~ zhugooi! Aoi kuat banget nggendong cowok itu di punggungnya! Haha..) di jalan yang dilaluinya semua orang terlihat menertawainya (kan biasanya cowok yang nggendong cewek, hlah ini? Haha..).
“Kakiku sakit.” Pemuda itu masih bisa-bisanya mengeluh di gendongan Aoi.
“Maaf,” ucap Aoi yang masih dilanda perasaan bersalah karena menyebabkan pemuda itu cedera hingga tak kuat berjalan (pasti cuma alesan tuh! Haha.. bales dendam ceritanya.. )
 
Dan saat lampu penyeberangan akan segera merah, Aoi dengan kepayahan terus berusaha berlari sambil menggendong si pemuda menyeberangi jalanan. Hingga di ujung penyeberangan akhirnya ia tak kuat lagi sampai jatuh lemas karena kelelahan.
“Selanjutnya kesana.” Ucap si pemuda menunjukkan jalan menuju ke rumahnya, Aoi semakin kesal saja mendengar ucapan santai dari pemuda itu. Apa dia tidak tahu jika Aoi sudah sangat kelelahan? Ini benar-benar penyiksaan untuk Aoi.
Tapi untunglah, kali ini Aoi hanya memapah pemuda itu, bukannya menggendongnya seperti tadi. Dan anehnya, walaupun tangan dan kakinya diperban, tapi terlihat jelas ekspresi puas si pemuda karena sudah membuat Aoi kesusahan seperti itu. Haha..
Aoi dengan wajah kesal melirik sekilas ke arah si pemuda itu sambil mengenang kembali pembicaraannya dengan Moe saat awal tahun ajaran lalu. Pasti ia berpikir kenapa Moe bisa suka dengan pemuda menyebalkan seperti ini! Hahaha..


 
“Kugayama Shuusei?” tanya Aoi saat itu.
“Ya!” jawab Moe antusias sambil berlari dari bawah tangga area jalan sekolahnya. Moe langsung menunjuk seorang pemuda yang tengah berjalan ke arah mereka. Dan tentu saja, dimana di berjalan, maka semua gadis akan langsung histeris kagum melihatnya! Shuusei? Dia malah bersikap acuh tak peduli pada teriakan gadis-gadis yang terus mengeluh-eluhkannya. (Woo~ type Prince Charming nih cowok.. ^^)
“Kerennya….” Teriak Moe dan teman-teman gadisnya yang lain.
“Kau tertarik dengan pemuda seperti itu.” Ucap Aoi kala itu sambil memperhatikan Shuusei dari kejauhan.
“Aoi, tentu saja menarik! Bukan hanya dari wajahnya, dia juga pintar dalam olahraga.” Terang Moe panjang lebar.
“Kerennya….” Ucap Moe yang masih tetap memandang kagum ke arah Shuusei dari kejauhan.
 
“Hmmm…” ucap Aoi mulai mengerti sambil terus mengamati Shuusei.

Kembali ke masa sekarang, kini Aoi dan Shuusei sudah tiba di bawah tangga menuju tempat tinggalnya.
 
“Di atas sana.” Ucap Shuusei sambil menunjuk ke atas tangga, Aoi yang sudah kelelahan hanya bisa menganga tak percaya melihat banyaknya anak tangga yang harus dilalui untuk bisa sampai ke atas.
“Ee, tidak itu..” tolak Aoi sambil melepaskan tangan Shuusei.
“Tak bisakah kau jalan sendiri?” tanya Aoi memohon.
“Tidak!” jawab Shuusei cepat. (Haha.. sepertinya belum puas nyiksa Aoi..)
 
Aoi hanya bisa menatap nanar ke arah Shuusei dan mengangguk tak berdaya. Ia maju ke hadapan Shuusei dan merentangkan kedua tangannya ke samping sambil membungkuk (ceritanya disuruh naik ke gendongannya gitu? Kasihaann Aoi…)
“Silakan.” Ucap Aoi kemudian.
Dan akhirnya… Aoi menggendong Shuusei menaiki tiap anak tangga dengan begitu kepayahan.
“Jika sakit kau perlu ke rumah sakit.” Aoi menawarkan saat mereka masih di tengah perjalanan menuju ke atas tangga.
“Tidak!” jawab Shuusei cepat..
“Kenapa?” tanya Aoi kesal.
“Tidak suka.” Jawabnya singkat.
“Tidak suka?” tanya Aoi tak percaya, pasti ia sudah tahu itu cuma alasan Shuusei untuk menyiksanya saja.
 
Namun tiba-tiba Aoi tergelincir saat menginjak anak tangga berikutnya yang membuatnya kehilangan keseimbangan dan membuat mereka berdua hampir terjatuh ke bawah jika saja Aoi tidak segera menarik tangan Shuusei.
“Oi, berhati-hatilah.” Ucap Shuusei dengan wajah yang sedikit ngeri.
“Maaf.” Jawab Aoi yang langsung melanjutkan perjalanan mereka sampai ke atas tangga dengan sisa-sisa tenaga yang dimilikinya.
 
Aoi memapah Shuusei menuju tempat tinggalnya, sampai Shuusei berkata “Itu.” Sambil menunjuk sebuah rumah kontrakan. Aoi yang sejak tadi tak memperhatikan terlihat begitu terkejut dengan rumah yang ditunjuk oleh Shuusei yang ternyata adalah rumah yang juga ia tempati saat ini. Ia melepaskan tangan Shuusei dan berlari menuju rumah itu.
“Jangan tiba-tiba melepasku.” Eluh Shuusei sambil tertatih berjalan mengikuti Aoi.
 
“He? He? Kenapa disini?” tanya Aoi dengan wajah bingung.
“Ini tempat tinggalku.” Jawab Shuusei singkat.
“He—Itu tempat tinggalku juga.” Ucap Aoi makin terkejut.
“Hah?” ucap Shuusei yang juga terkejut.
“Benarkah? Kamar berapa?” tanya Aoi tak percaya.
“202.”
“Kamar di sebelahku? Sejak kapan?”
“Seminggu yang lalu.”
Aoi benar-benar sangat terkejut mengetahui hal ini, ia berjalan mundur dengan wajah makin tak percaya dengan apa yang terjadi saat ini.
“Kau bohong, kan?” ucapnya frustasi.
---
Dan ternyata benar, kamar nomor 202 memang berpenghuni atas nama KUGAYAMA.Aoi saat ini tengah bersih-bersih di kamar Shuusei. Sedangkan Shuusei sendiri malah asyik dengan komik yang dibacanya di atas tempat tidurnya. Sepertinya Shuusei menggunakan alasan cederanya untuk menyuruh-nyuruh Aoi melakukan pekerjaannya, hahaha…
 
Saat Aoi tengah memebersihkan lantai, Shuusei justru asyik tertawa dengan komiknya, yang jelas saja membuat Aoi kesal. Apalagi kamar Shuusei masih sangat berantakan karena baru saja pindah ke rumah ini minggu lalu. Dan sepertinya Shuusei adalah type cowok sejati (kagak doyan bersih-bersih, dan hoby berantakin kamar..) sehingga banyak barang yang tergeletak tak pada tempatnya dan semakin menambah kekesalan Aoi. Aoi lelah dan mematikan penyedot debu yang sedari tadi digunakannya,
“Kenapa aku harus melakukan ini?” ratap Aoi.

Ia melanjutkan pekerjaannya dengan membereskan pakaian Shuusei yang berantakan, dan tanpa disengaja ia mengambil celana dalam (boxer) Shuusei yang jelas saja membuatnya berteriak histeris dan langsung melemparkannya ke wajah Shuusei.
 
“Apa-apaan sih?” tanya Shuusei sambil melihat celana yang tadi dilempar padanya.
“Soalnya itu…” ucap Aoi malu.
“Ingin melihatnya?” goda Shuusei yang melihat kegugupan Aoi.
Aoi kesal dan berjalan ke arahnya sambil berkata, “ Tidak!”
“Hei, bagaimana makanannya?” potong Shuusei tak peduli dengan kekesalan Aoi.
“Sekarang aku sedang bersih-bersih. Lalu aku harus masak…”
 
“Ah~ sakit. Lapar..” ucap Shuusei sambil sengaja memperlihatkan cedera-cederanya di depan Aoi.

Akhirnya Aoi pergi mengambil bahan makanan di kamarnya dan memasaknya di kamar Shuusei.

“Merepotkan saja!” eluhnya saat ia akan mengambil barang-barang dari kamarnya.
“Eh, berapa lama kau tinggal disini?” tanya Shuusei saat Aoi tengah memotong sayuran.
“Sudah setahun aku tinggal sendiri.”
“Kenapa tinggal sendiri?” tanya Shuusei sambil melepas seragamnya.
“Tahun lalu ayahku dikirim ke China. Ibu dan adikku juga ikut ke sana. Aku harus mempersiapkan diri untuk ujian masuk kuliah.” Jawab Aoi sambil menuang minyak ke dalam tabung takaran.
“Bukankah sekolah kita berafiliasi? Seharusnya tidak masalah langsung masuk kuliah.” Ucap Shuusei.
“Apa kau bodoh?” tebak Shuusei.
 
“Tidak! Jauh sekali dari Jepang. ” Jawab Aoi
“Lalu?”
“Aku tidak mau tiba-tiba pindah sekolah. Aku juga tidak ingin berpisah dengan Moe.” Terang Aoi.
“Moe?”
“Gadis yang tadi menembakmu!”
“Oh..”
“Begini ya, Moe itu gadis yang baik. Meski sedikit ceroboh, tapi dia baik. Saat aku dibully saat SMP dia masih tetap berteman denganku.” Ucap Aoi panjang lebar.
 
Tiba-tiba Shuusei yang sedang telanjang dada berdiri tepat di bekangnya dan mengatakan, “Sepertinya enak.”
“Bikin kaget saja.” Ucap Aoi dan begitu terkejutnya ia ketika menoleh dan mendapati Shuusei tengah telanjang dada di hadapannya.
 
 
“Hei, pakai pakaianmu!” teriak Aoi sambil menjaga jarak dari Shuusei dan mendorongnya ke belakang.
 
Dan karena panic, Aoi salah memasukkan minyak yang seharusnya air ke dalam masakannya sehingga menciptakan semburan api hingga ke langit-langit dapur itu yang jelas saja membuat Aoi maupun Shuusei berteriak histeris karena terkejut.

 
Alarm kebakaran langsung berbunyi dan pemadam api otomatis langsung menyemprotkan air ke dalam seisi kamar. Aoi yang hanya mampu meratap frustasi dan tak percaya ataskekacauan yang telah diperbuatnya. Seluruh kamar Shuusei dan barang-barangnya basah tergenang air.
Ibu pemilik rumah datang dan melihat kondisi kamar Shuusei yang tergenang air dimana-mana. Aoi terlihat begitu merasa bersalah.
 
“Apa ini? Dingin. Kacau sekali, ya?” tanya Ibu pemilik rumah sambil berkeliling melihat kekacauan yang terjadi.
“Akan kusuruh seseorang untuk memperbaikinya. Sudah kuasuransikan, tenang saja.” Ucap ibu pemilik rumah dengan ramah.
“Aku minta maaf.” Ucap Aoi sambil membungkuk penuh penyesalan.
“Berapa lama perbaikannya?” tanya Aoi kemudian.
“Banyak hal yang harus diperbaiki, mungkin bisa sebulan.”
“Selama itu?”
“Bagaimana rencanamu, Shuusei-kun? Tidak ada kamar yang kosong. Di rumahku ada kamar, tapi…” tanya ibu pemilik rumah sambil berpikir.
“Tak apa, aku bisa tinggal dengan temanku.” Ucap Shuusei tiba-tiba.
“Tidak apa-apa?” tanya ibu pemilik rumah.
“Ya. Iya, kan?” ucap Shuusei sambil menatap Aoi.
“Eh, temanmu?” tanya Aoi bingung.
“Kamarmu.” Ucap Shuusei sambil menunjuk Aoi.
 

“EEEHHHHHH!!!! YANG BENAR SAJA!!!”
***
Akhirnya Shuusei pindah ke kamar Aoi (tapi yang pindahan siapa ya ini? Aoi malah yang angkat-angkat semua barang Shuusei ke kamarnya.. hahaha..)
 
Shuusei sendiri malah asyik mengamati perabot dan juga tulisan-tulisan yang ada di kamar itu. Dia terus berkeliling sementara Aoi terus mengatakan bahwa kamarnya ini tidak nyaman. (Ceritanya biar Shuusei gak jadi tinggal disitu gituu… >,<) namun Shuusei tetap bersikap acuh dan membuka pintu yang menuju balkon kamar.
 
Aoi melihat pakaian dalamnya yang masih tergantung di dekat pintu dan semakin berteriak histeris takut jika Shuusei melihatnya sehingga ia langsung berlari dan sialnya lagi dia malah tersandung kardus yang membuatnya terjerembab ke lantai (kasihaan, sampai mimisan loh…) kemudian meraih pakaian dalamnya secepat mungkin.

“Kau melihatnya?” tanya Aoi malu.
“Aku mau mandi.” Ucap Shuusei terlihat tak peduli yang langsung membuat Aoi bernafas lega.
“Merah berbintik-bintik.” Ucap Shuusei kemudian saat ia berjalan menuju kamar mandi.
Hal itu jelas saja membuat Aoi makin malu (warna pakaian dalamnya kan emang merah bintik-bintik gitu.. hahaha…)
 
Sementara Shuusei mandi, Aoi menyiapkan makan malam untuk mereka berdua (dengan tissue yang masih menyumbat di hidungnya, haha..). Aoi terlihat mulai panic sendiri menyadari situasi yang saat ini dihadapinya. Bagaimana ini? Aku belum pernah pacaran, bahkan tidak punya orang yang kusuka. Begitulah ratapnya..
Saat mendengar suara pintu kamar mandi yang dibuka ia mulai salah tingkah dan mengambil tissue di hidungnya saat itu juga, sambil duduk di meja makan dengan ekspresi gugup yang terlihat jelas di wajahnya.
 
Dan ternyata, Shuusei keluar dari kamar mandi hanya dengan mengenakan celana boxernya saja! Yang jelas saja membuat Aoi terkejut dan beringsut ke pojok kamar agar tak melihatnya.
“Hei, kenakan pakaianmu!” teriak Aoi makin frustasi.
“Tidak apa di kamar sendiri.” Jawab Shuusei enteng, tanpa rasa malu sedikitpun.
“Tentu saja masalah. Aku ini seorang gadis.” Ucap Aoi yang makin salah tingkah.
“Kau berpikiran yang bukan-bukan. Terlalu.” Goda Shuusei sambil mengenakan pakaiannya.
“Tidak!” elak Aoi yang terlihat mulai kesal tanpa berani menatap ke arah Shuusei sedikitpun.
“Ada aturannya dalam tinggal bersama. Dan penampilanmu membuatku tidak nyaman. Pikirkanlah.” Terang Aoi panjang lebar.
“Enak! Benar-benar enak.” Puji Shuusei setelah memakan masakan yang sudah disiapkan Aoi tadi.

Aoi terdiam melihat Shuusei yang ternyata benar-benar menyukai masakannya. Shuusei langsung memakan satu per satu hidangan di meja dengan lahap. Wajah Shuusei terlihat begitu takjub dan gembira memakan masakan buatan Aoi itu.
“Tentu saja.” Jawab Aoi sambil ikut duduk juga di meja makan.
***

Pagi hari di kelasnya, Aoi terlihat letih dan bahkan ia tanpa sadar membuang nafas dengan keras yang terdengar hampir seperti geraman saat pelajaran berlangsung. Hal itu jelas saja membuat semua siswa di kelasnya beserta sang guru menatap heran ke arahnya. Sang guru yang khawatir memanggil Aoi dan menanyakan apakah pelajarannya membosankan. Aoi langsung menyangkalnya dan meminta maaf pada gurunya kemudian duduk kembali di kursinya. Moe yang khawatir juga bertanya padanya, apakah ada masalah? Tapi Aoi berkata bukan apa-apa dan meminta agar Moe tak khawatir padanya.

Tak sengaja ia menengok ke arah luar jendela kelasnya dan dilihatnya saat itu Shuusei tengah bertanding bola dengan teman-teman sekelasnya. Pada awalnya ia terlihat biasa saja, namun tiba-tiba saja dia ingat sesuatu. Bukankah kaki Shuusei cedera? Bagaimana mungkin ia bisa bermain bola dan berlari seperti itu? Mungkin itu yang dipikirkannya.
“HEEEE!!” teriaknya sambil berdiri untuk mengamati Shuusei lebih jelas.
“Kenapa? Bagaimana dengan lukanya? Menyebalkan! Aku ditipu!” teriak Aoi frustasi menyadari akan kebodohannya.

Sang guru yang khawatir pada Aoi langsung berlari menghampirinya menanyakan apakah Aoi benar-benar ditipu. Aoi yang menyadari kekacauan yang ditimbulkannya langsung meminta maaf pada gurunya.
 
Istirahat siang pun tiba. Aoi membuka bekalnya yang ternyata adalah… nasi dengan sebuah mentimun! (emang enak yaa? >,<). Moe heran melihat bekal Aoi dan mengatakan apa itu yang dibawa Aoi, dan itu terlihat tak seperti Aoi yang biasanya (mungkin biasanya Aoi prepare banget tentang bekalnya, jadi ya heran kok tiba-tiba bawaannya nasi+timun gituu.. hahaha…). Aoi membenarkan dan justru mengingat kejadian semalam hingga pagi ini yang menyebabkannya harus berakhir dengan hanya makan nasi dan mentimun itu.
---
 
Malam tadi, betapa terkejutnya Aoi yang baru keluar dari kamar mandi untuk berganti dengan piama saat ia mengetahui bahwa Shuusei telah mengganti tempat tidurnya. Shuusei menjawab bahwa tempat yang tadi menghalangi jalan dan dingin jadi ia pindah ke tengah (tempat yang sudah Aoi siapkan untuk tidur.. wkwkwk…). Aoi jelas tak terima dan berusaha mengambil kembali kasurnya, namun ternyata tenaganya bahkan tak cukup kuat untuk menarik kasur yang sudah ditiduri Shuusei itu. Akhirnya Aoi menyerah dan menerima untuk tidur di tempat Shuusei seharusnya.

Saat alarm berbunyi di pagi harinya, begitu terkejutnya Aoi saat menyadari Shuusei terlelap di sampingnya sambil memeluknya. Ia bangun dengan berteriak histeris sambil mendorong tubuh Shuusei yang masih terlelap agar menjauhinya.
Ia sepertinya bangun kesiangan, karenanya ia terlihat begitu terburu-buru bahkan sampai salah mengambil kotak makan. Karena begitu kesal, ia pun hanya meletakkan mentimun utuh ke atas nasi yang disiapkannya. Ia makin panic saat alarm (jadwal membuang sampahnya) berbunyi.
 
Dengan kesal ia memukul lengan Shuusei yang masih tertidur nyenyak di kamarnya,
“Kau akan terlambat!” teriak Aoi memperingatkannya.
“Aku melewatkan jam pertama.” Jawab Shuusei dengan mata yang masih tetap terpejam.

Aoi berlari keluar rumah dengan menenteng kantong sampah di kedua tangannya. Shuusei yang sudah bangun dan melihatnya dari atas balkon kamarnya justru malah menggodanya dengan mengatakan bahwa sampahnya masih banyak. Aoi jelas makin kesal saja dan berlalu pergi meninggalkannya.
---
Kembali ke masa sekarang, Aoi terlihat geram sekaligus kesal mengingat semua kejadian yang menimpanya hingga pagi tadi. Moe yang sedari tadi mengamati ekspresi Aoi jelas saja heran sekaligus khawatir. Aoi yang tak ingin Moe tahu tentang masalah Shuusei dan dia yang tinggal bersama, hanya mampu tersenyum menutupi dan mengatakan bahwa banyak hal yang terjadi. Moe heran dan bertanya, “meski hidup sendiri masih cukup kesulitan ya?” Dan Aoi hanya mengangguk mengiyakan.
Tiba-tiba saja hati kecil Aoi ingin mengatakan yang sebenarnya terjadi kepada Moe, saat ia menyebut tentang KUGAYAMA, Moe justru berdiri dengan penuh tekad sambil berkata bahwa dia akan lebih mencintainya. Aoi heran dan bertanya, “Mengapa? Meskipun ia telah berkata kasar padamu?”
“Dia bersikap dingin karena dia pangeran. Rasanya seperti Yamashiro sudah datang. (Yamashiro=restoran Hollywood yang terkenal)” Ucap Moe penuh rasa kagum pada Shuusei.
“Oh begitu..” ucap Aoi yang mengurungkan niatnya memberi tahu Moe setelah melihat tekad Moe yang menggebu seperti itu.

Tiba-tiba saja temannya datang dengan membawa berita penting di sekolahnya. Ternyata ada seorang siswi yang dikeluarkan setelah ketahuan oleh pihak sekolah tinggal bersama pacarnya. Aoi yang mendengarnya jelas sangat terkejut! Bukankah sekarang ia juga tengah tinggal bersama dengan seorang pemuda? Walaupun Shuusei bukanlah pacarnya, tapi apakah pihak sekolah akan mempercayainya jika ia sampai ketahuan? Teman-temannya langsung mengeluhkan sekolah mereka yang sangat ketat sekarang ini. Aoi hanya terduduk lemas sekaligus takut mendengar cerita teman-temannya itu. “Gawat” desahnya frustasi. Tak mempedulikan keributan yang dilakukan teman-temannya di belakangnya.
---
 
Di lorong kelasnya, Shuusei sedang asyik berbicara sambil memainkan ponselnya bersama dengan seorang teman sekelasnya. Tanpa disengaja, Aoi dan ketiga temannya melihat Shuusei dari kejauhan. Dan jelas saja, Moe yang heboh sendiri ketika melihat ada Shuusei di hadapannya.
“Aku ingin menyapanya..” ucap Moe semangat.
“Tapi memalukan. Kemarin, baru saja kau ditolak.” Ucap seorang temannya.
Aoi yang melihat keberadaan Shuusei justru beringsut dan menyembunyikan dirinya agar Shuusei tak melihat keberadaannya.
Tapi terlambat, ternyata Shuusei tahu Aoi ada disana dan berjalan menghampiri mereka. Moe dan teman-temannya mengira ia datang untuk Moe sehingga Moe menyapa Shuusei dengan begitu ramah.
“Hei” ucap Shuusei tenang.
“Iya!” jawab Moe begitu antusias.

“Dia.” Tunjuk Shuusei pada Aoi yang jelas saja membuat Moe dan kedua temannya terkejut menatap tak percaya kepada Aoi.
Aoi yang panic balik bertanya, “Aku?”
Shuusei kemudian mengeluarkan kunci dari dalam sakunya, yang jelas saja membuat Aoi terkejut bukan main. Ia berteriak dan berlari untuk mengambil kunci kamarnya yang dibawa Shuusei. Shuusei justru menggoda Aoi dan tak mau memberikan kuncinya. Aoi yang tak ingin teman-temannya mengetahui rahasianya akhirnya mendorong Shuusei menjauh dari teman-temannya yang sedari menatap mereka dengan tatapan penuh tanda tanya.
“Aku benar-benar lupa.” Bisik Aoi sambil terus menatap kuncinya dan berusaha merebutnya dari tangan Shuusei. Namun Shuusei justru semakin tak mau mengembalikannya.
“Hei, kau!” teriak Aoi frustasi sambil menoleh ke arah teman-temannya yang masih menatap mereka dengan curiga.
“Jika sekolah tahu kita akan dikeluarkan.” Terang Aoi yang begitu ketakutan jika sampai rahasianya terbongkar.
“Apa alasan kita?” ucap Shuusei sambil berpikir.
“Apapun alasannya dengarkan aku, atau kita akan dikeluarkan!” ucap Aoi memperingatkan.
Namun Shuusei terlihat tak peduli dan justru menggoda Aoi dengan kunci yang ada di tangannya, “Kau tak butuh ini?” godanya.
“Berikan! Berikan padaku!” ucap Aoi sambil mencoba merebut kuncinya.

Dan tiba-tiba saja Shuusei menarik Aoi ke balik tembok dan memeluknya. Aoi jelas saja terkejut diperlakukan seperti itu. Namun Shuusei justru meminta Aoi berterimakasih padanya terlebih dahulu. Tak nyaman sedekat itu dengan Shuusei, Aoi akhirnya melepas pelukannya dan bertanya apa yang Shuusei lakukan (kelihatan banget klo Aoi gugup maksimal diperlakukan semanis itu sama Shuusei.. hahaha..)
“Kalau ketahuan bahaya, kan?” goda Shuusei sambil menunjukkan kunci Aoi.
“Terima kasih.” Ucap Aoi akhirnya mengalah.
“Aku tidak dengar!” ucap Shuusei yang makin menggoda Aoi.
“Terima kasih!” ucap Aoi lebih keras di hadapan Shuusei.
“Kau bisa melakukannya.” Ucap Shuusei sambil tersenyum puas.
Aoi akhirnya mendapatkan kuncinya. Dan saat itu ia ingat sesuatu dan bertanya pada Shuusei tentang kakinya dan kapan sembuhnya. Shuusei hanya menjawab enteng, “Entahlah..” yang jelas saja membuat Aoi kesal dan menyebut Shuusei sebagai pembohong. Tiba-tiba saja ada yang memanggil Shuusei, Aoi langsung berlari menjauh, begitu pula Shuusei yang akhirnya pergi bersama dengan temannya itu.
 

Moe dan teman-temannya menghampiri Aoi dan menanyakan tentang apa maksudnya tadi. Bahkan seorang temannya hampir menebak dengan benar tentang Aoi dan Shuusei yang tinggal bersama, namun Aoi segera mengelak dengan mengatakan bahwa ia menjatuhkan kuncinya dan Shuusei dengan baik hati mau mengembalikan padanya. Hal ini jelas saja membuat Moe dan teman-temannya semakin kagum terhadap Shuusei.
---


Di kamarnya, Aoi menuliskan beberapa memo yang sengaja ia letakkan di beberapa tempat agar Shuusei tidak berlaku seenaknya sendiri seperti kemarin. Ia menggantungkan memo seperti: TIDAK BOLEH TELANJANG!, UNTUK PERSEDIAAN SEBULAN, JANGAN DIMAKAN! (digantung di lemari es), KETUK SEBELUM MASUK! (di pintu kamar mandi), JANGAN DIBUKA TANPA IZIN! (di laci pakaian Aoi).

Selain itu, Aoi juga membuat sekat di tengah-tengah kamarnya untuk memisahkan tempat tidur mereka dengan menggunakan kain selimut yang ia gantung di atasnya dengan tali. ia merasa senang sudah menyelesaikan semuanya dan ia akhirnya bisa mendapatkan area privasi sendiri di kamarnya ini. Ia berbaring dan menyadari kepulangan Shuusei.
Ia baru saja ingin menghampiri Shuusei karena kesal dengan kejadian di sekolah tadi yang membuat mereka hampir saja ketahuan. Tapi betapa terkejutnya ia ketika mendengar suara orang lain yang sedang bersama dengan Shuusei! Ternyata Shuusei mengajak temannya tadi mampir ke kamarnya! Aoi jelas saja panic.
Saat Shuusei dan temannya masuk kedalam kamar, tirai yang tadi dipasang Aoi ternyata sudah tak terpasang seperti tadi. Teman Shuusei terlihat kagum dengan tempat tinggal Shuusei yang rapi (lah jelas lah… kan Aoi yang bersihin.. hahaha..) dan luas untuk tinggal sendiri.
 
Shuusei jelas melihat adanya perbedaan di kamar itu, ia melihat berbagai memo yang ditulis Aoi dan juga tirai yang tidak terpasang. Teman Shuusei terkejut saat melihat ada pakaian perempuan yang tersusun di ruangan itu. Aoi yang sedari tadi ternyata bersembunyi di dalam gulungan semut jelas menyadari bahwa itu pakaiannya. Shuusei dengan tenang mengatakan bahwa itu milik gadis di kamar sebelah yang datang untuk memakai mesin cuci.
 
Temannya jelas heran dan menanyakan gadis macam apa itu. Shuusei dengan enteng mengatakan bahwa dia gadis berpakaian dalam merah bintik-bintik (hahaha… masih inget aja bang….). temannya menanyakan apakah Shuusei mengenal gadis itu, apa dia satu sekolah dengan mereka. Shuusei yang masih berkeliling menjawab IYA. Temannya semakin penasaran dan bertanya siapa gadis itu.
 

Shuusei tak sengaja melihat kaki Aoi yang sedikit keluar dari selimut, ia tersenyum nakal dan justru duduk di atas selimut yang berisi Aoi di dalamnya itu. Aoi jelas saja merasa keberatan diduduki Shuusei seperti itu, ia memekik dan hampir saja membuatnya ketahuan. Aoi memberi kode pada Shuusei untuk tidak mendudukinya seperti itu, tapi ya namanya Shuusei, makin nyiksa Aoi makin senang pula dia.. hahaha…
 
Shuusei bahkan menggoda Aoi dengan menggelitik telapak kaki Aoi yang jelas saja membuat Aoi berteriak kegelian dan menyuruh Shuusei berhenti menggelitik kakinya seperti itu. Teman Shuusei jelas saja menyadari suara Aoi, ia menanyakan suara siapa itu. Tapi Shuusei malah menjawab bahwa itu adalah suara tetangganya yang sedang mandi, jelas saja temannya langsung antusias penasaran dan bertanya bolehkah ia keluar untuk mendengarnya, kemudian berjalan keluar pintu balkon.
 
Aoi yang melihat temannya Shuusei sudah keluar jelas tak tahan lagi dan beranjak bangun sehingga membuat Shuusei terdorong maju. Aoi berdiri dengan tampang kesal dan Shuusei malah bertanya, “Apa?” . Aoi yang sudah sangat kesal berteriak apa yang Shuusei lakukan sambil meninju dada Shuusei dengan keras yang jelas saja membuat Shuusei meringis kesakitan.
 
Namun tiba-tiba saja teman Shuusei masuk kembali dan bertanya ada apa (karena mendengar suara teriakan Aoi tadi barangkali…), dan jelas saja ia begitu terkejut melihat Aoi ada disana.
Dia menanyakan siapa Aoi. Shuusei menjawab bahwa dia adalah tetangganya yang mau mengambil pakaiannya. Aoi langsung memperkenalkan diri sebagai tetangga Shuusei, Nishimori Aoi, tahun ke-3 kelas B.
 
Temannya Shuusei juga dengan ceria memperkenalkan diri sebagai Sato Ryousuke, dari kelas C. Dia juga mengatakan bahwa ia dan Shuusei sudah kenal sejak SMP dan berteman dekat.
Shuusei tiba-tiba menyela dengan mengatakan bahwa mereka akan ke karaoke. Ryousuke dengan ramah menawarkan agar Aoi ikut juga bersama mereka. Aoi jelas saja sungkan dan menolaknya dengan ramah. Tapi belum selesai Aoi berbicara, Shuusei langsung memotong dengan mengatakan, “Tak bisa. Dah!” (perasaanku aja, apa emang Shuusei udah mulai protective sama Aoi? Dia gak pengen Aoi ikut acara cowok.. hahaha..)
Ryousuke juga mengucapkan, “Sampai ketemu lagi.” (haha.. gak tahu ini kamarnya siapa sih.. jadi ya gitu, main usir aja..)
 
Aoi dengan berat hati menjawab, “Iya. Permisi.” dan hendak melangkah keluar. Tapi Shuusei menghentikannya dan mengatakan bahwa ia melupakan sesuatu sambil melempar baju Aoi yang langsung ditangkap Aoi. “Terima Kasih.” Jawab Aoi dengan menahan kesal dan melangkah keluar kamarnya.
 
Aoi berlari menerobos hujan dan berteduh di depan sebuah toko bahan makanan yang bernama IL CALICE. Ia menggerutu bahwa itu kan kamarnya! Jadi bukan dia yang seharusnya pergi dari sana, hahaha… ia melihat tanda SALE di toko itu dan dengan antusias masuk ke dalamnya.
Saat masuk ia langsung disambut oleh pegawai di toko itu. Aoi yang memang sangat suka memasak tentu saja sangat tertarik dan kagum dengan produk yang begitu lengkap dijual disana.
 
 
“Oliver..” ucapnya saat melihat suatu produk.
“Kau ingin mencobanya?” tanya seorang pria tampan tiba-tiba.
“Sanjou-san.”
“Selamat datang, Aoi-chan.” Sapa Sanjou ramah.
“Oliver ini baru tiba hari ini. Mau mencobanya?” tawar Sanjou dengan mengambil sampelnya untuk Aoi.
“Ya!” jawab Aoi begitu antusias.
“Heemm.. Enaakk…” ucap Aoi dengan tersenyum gembira setelah mencicipinya.
“Ho~, sepertinya ini akan laris..” ucap Sanjou yang membuat Aoi bingung.
“Senyuman Aoi-chan dapat menyelesaikan masalah.” Ucap Sanjou yang langsung membuat wajah Aoi memerah.
“Benarkah?”
“Ya.”
“Oh ya, dimana orangtua Kanama membuat mari (jenis makanan)?” tanya Aoi yang langsung bersin setelah mengatakannya.

Dengan perhatian Sanjou melepas blazernya dan memakaikannya pada tubuh Aoi yang basah kehujanan tadi.
“Jangan sampai demam.” Ucap Sanjou begitu perhatian padanya.
Aoi yang tak enak berusaha menolak, namun Sanjou malah bertanya dimana payungnya. Aoi makin merasa tak enak dan menjawab bahwa ia baik-baik saja. Sanjou yang paham jika Aoi lupa tak membawa payung langsung meminta Aoi menunggu sebentar sementara ia sendiri segera pergi mengambil payung untuk Aoi. Aoi benar-benar merasa tak enak karena merepotkan Sanjou dan membungkuk untuk meminta maaf.
 
Sementara itu, kedua pekerja toko yang melihat keakraban Aoi dan Sanjou mulai curiga dan menanyakan ada apa dengan mereka. Pekerja yang satunya menjawab sepertinya mereka memiliki hubungan, yang langsung membuat pekerja yang satunya lagi terkejut tak menyangka.

 
Aoi sudah pulang namun ia masih ragu untuk masuk ke kamarnya (takut Ryousuke masih di dalam kali yaa..), ia juga sempat bersin saat akan masuk ke dalam kamarnya. Ia membuka pintu kamarnya dengan hati-hati dan berkata, “Permisi.” terlebih dahulu (tuh kan, takut Ryousuke masih disana). Saat ia menyadari hanya ada Shuusei di dalam ia segera masuk dan dengan wajah kesal segera menghampiri Shuusei.

“Hei! Lain kali jangan mengajak temanmu kesini.” Ucap Aoi memperingatkan.
“Kenapa?” tanya Shuusei tanpa dosa.
“kau sudah tahu, kan? Jika kita ketahuan, kita akan dikeluarkan.” Ucap Aoi lemah.
“Itu baju siapa?” tanya Shuusei yang melihat Aoi memakai blazer pria di tubuhnya.
“Sanjou-san meminjamkannya padaku.” Terang Aoi yang langsung limbung dan hampir saja ambruk jika saja Shuusei tak segera menahan tubuhnya.

 

Shuusei yang khawatir langsung memeriksa dahi Aoi dengan tangannya. Aoi jelas saja terkejut diperlakukan seperti itu oleh Shuusei.
“Kau demam.” Ucap Shuusei yang masih memeriksa dahi Aoi.
“Oh, begitu.” Jawab Aoi yang gugup dan langsung berusaha melepaskan diri dari Shuusei.


continue to Part 2

Tidak ada komentar:

Posting Komentar