Total Tayangan Laman

Rabu, 12 November 2014

SINOPSIS LDK Love Doukyo (LIVING TOGETHER) J-MOVIE 2014 (Part 4-End)


Sebelumnya Part 3


Aoi membuka hadiah yang diberikan Shuusei padanya yang ternyata berisi kalung bintang yang selama ini begitu dikagumi Aoi yang tentu saja membuat Aoi begitu terkejut. Aoi mengambil kalung itu dan benar-benar sudah tak bisa lagi menahan perasaannya. Ia mulai terisak dan menangis dengan begitu sedih sambil memeluk kalung yang ada di genggamannya itu.
 
 
 
 
 
Aoi mengingat kembali saat-saat kebersamaannya dengan Shuusei. Saat mereka tertawa bersama. Shuusei yang menciumnya untuk menghiburnya. Dan saat Shuusei berkata ingin membuatnya tertawa silih berganti muncul di ingatannya yang membuat Aoi semakin sedih dan meluapkan semuanya dengan tangisannya.
 
Aoi melihat di sekelilingnya, dan semua sudut di apartement ini yang punya kenangan tentang Shuusei. Ia menatap Jas sekolah Shuusei yang masih tergantung di tempatnya, dan semua peralatan di kamar ini yang berjumlah sepasang membuat hatinya semakin sakit mengingat Shuusei.
Sedangkan Shuusei sendiri sedang bekerja dengan begitu keras di restoran. Saat sedang membersihkan lantai dapur tiba-tiba saja ia mendapat sebuah email dari Aoi yang membuat ponselnya bergetar. Shuusei terpaku menatap nama Nishimori Aoi muncul di ponselnya dan saat akan membukanya ia justru dipanggil oleh Seniornya yang memberikannya sebuah tugas untuk dikerjakannya. Shuusei segera mengurungkan niatnya dan kembali mengerjakan pekerjaannya.
 
Setelah mengirim pesan email pada Shuusei, Aoi langsung membereskan tirai yang selama ini memisahkan tempat tidurnya dengan Shuusei.
 
Shuusei yang sepertinya sudah selesai dengan pekerjaannya dan sedang duduk sambil menatap ke dermaga di depannya, entah kenapa ia terlihat begitu berat menjalani semua ini sekarang. Dan kebimbangan hatinya juga semakin menambah beban di hatinya.
 
Aoi membereskan barang-barang Shuusei yang masih ada di kamarnya dan memasukkannya ke dalam kardus. Sesekali ia menatap ke arah ponselnya dan kecewa menyadari Shuusei tak membalas pesan darinya tadi.
 
Shuusei sedang membuang seplastik besar sampah ke dalam bak sampah yang ada di belakang restorannya, sampai tiba-tiba suara Usai mengejutkannya. Dan akhirnya mereka berbicara berdua di pinggir dermaga.
 
Usai melemparkan sekaleng minuman yang langsung ditangkap oleh Shuusei. Usai mengeluh bahwa ia menerima banyak pesan dari Satsuki setiap hari, tak ada hentinya. Shuusei hanya berkata maaf padanya. Usai bertanya bagaimana dengan Shuusei? Shuusei menjawab sampai Satsuki menemukan kebahagiaannya, ia akan selalu di samping Satsuki.
“Meskipun kau tidak suka? Apa-apaan itu?! Itu hanya kepuasan diri, kan? Kau begitu mudah-” cela Usai
 
Usai menasehati Shuusei untuk meninggalkan saja Satsuki jika tak bisa menghadapinya lagi. Shuusei berkata tak akan kutinggalkan meskipun kau mengatakannya. Usai mengatakan bahwa bagi Satsuki, Shuusei tak lebih hanya sebagai boneka ‘Shuu-chan’. Shuusei mengerti hal itu dan Usai justru membentaknya dengan mengatakan bahwa SATSUKI JUGA PAHAM AKAN HAL SEMACAM ITU! Usai bahkan menawarkan untuk menyerahkan Satsuki kepadanya saja, dialah yang akan melakukan sesuatu.
 
“Melelahkan, kan?” ucapnya sambil tersenyum pada Shuusei.
Usai akan pamit pergi tapi sebelumnya ia justru mencengkeram baju Shuusei dan berkata dengan serius, “Jangan lari lagi.” Lalu tersenyum dan mengusap kepala adiknya itu dengan sayang sebelum akhirnya benar-benar pergi meninggalkan Shuusei yang masih tertegun mendengar setiap ucapan Usai tadi.
 
---
Sepulang sekolah, Aoi yang lapar mengajak Moe untuk makan di apartementnya dan dia akan memasakkan sesuatu yang enak untuknya nanti. Namun Moe justru megajak Aoi untuk datang ke festival Tanabata bersama-sama dengannya dan Ryousuke, tentu saja ia menolaknya karena tak ingin mengganggu mereka.
 
Tapi Moe menyayangkan karena Aoi bahkan sudah membeli Yukata. Aoi berkata tidak apa-apa dan akan memakainya tahun depan jika ada kesempatan. Moe tetap tak menyerah dan mengatakan untuk mengajak seseorang agar mereka bisa kencan ganda, tak mendengar sekalipun Aoi tak menyetujui ide itu. Moe juga menambahkan tinggal menunggu waktu agar bisa jatuh cinta. Moe terus berpikir dimana bisa mendapatkan orang yang tepat sebagai pasangan Aoi tanpa mau mendengar penolakan Aoi.
Tiba-tiba saja Moe berkata, “Ketemu!” yang jelas saja membuat Aoi terkejut sekaligus bingung.
Dan ternyata orang yang dimaksud Moe adalah Sanjou!
 
Moe mananyakan kesediaan Sanjou untuk ikut ke festival Tanabata bersama Aoi, dan Sanjou jelas tak menyia-nyiakan kesempatan itu dan menyetujuinya. Aoi terlihat tak enak pada Sanjou, namun Moe justru yang terlihat lebih antusias daripada siapapun. Moe bahkan berkata pada Sanjou bahwa Aoi akan memakai Yukata, jadi Sanjou harus menantikannya nanti. (Haha.. sepertinya Moe mau nyomblangin Aoi sama Sanjou nih, biar gak sedih gara-gara inget Shuusei terus..) Sanjou hanya meresponnya dengan tertawa senang dan mengiyakan saja apa yang dikatakan Moe sebelum ia kembali bekerja.
 
Moe terlihat begitu girang, namun Aoi justru merasa semamkin tidak enak. Moe mengatakan bahwa setelah ditolak dengan orang yang Aoi suka, Aoi tidak boleh sendirian selamanya. Aoi tersenyum sambil mengatakan bahwa ia mengerti maksud Moe.
---
 
Di kamarnya, Aoi melihat kalung yang diberikan Shuusei padanya untuk yang terakhir kalinya. Wajahnya terlihat sedih saat menatap kalung itu, namun ia sudah memutuskan untuk menutup rapat-rapat kenangannya bersama dengan kalung ini. Ia tak ingin terus menerus terpuruk sendirian seperti kemarin. Ia akan bangkit mulai saat ini, dimulai dengan Sanjou.
 
 
Aoi berjalan ke halte bus dengan memakai Yukata menghampiri Moe dan Ryousuke. Moe bahkan memuji penampilan Aoi yang terlihat begitu cantik, dan menggodanya jika Sanjou pasti senang melihatnya nanti. Aoi jelas saja malu dipuji seperti itu. Dan bus yang ditunggu pun akhirnya datang. Namun entah kenapa tiba-tiba saja wajah Aoi berubah murung. Ryousuke yang melihatnya juga terlihat ikut prihatin pada Aoi, apalagi Moe. Namun Moe tak ingin Aoi terus sedih seperti itu dan menyuruh Aoi untuk segera masuk ke dalam bus.

Tiba-tiba Moe mengatakan pada sopir bus untuk segera jalan. Aoi terkejut karena ternyata Moe dan Ryousuke tak ikut bersamanya. Moe beralasan jika ia dan Ryousuke akan naik motor ke festival nanti, dan meminta Aoi menyapa Sanjou dengan ramah sebelum akhirnya mengucapkan selamat tinggal saat bus yang membawa Aoi sudah melaju melewati mereka. Moe berharap jika rencananya ini akan berjalan lancar, dia menambahkan bahwa jika Sanjou dengan Aoi maka dia yakin. Sementara itu Ryousuke justru terlihat tidak senang dengan ide Moe yang hendak menjodohkan Aoi dengan Sanjou.
---
 
Shuusei sedang dalam perjalanan ke apartementnya saat bus yang tadi dinaiki Aoi melintas tepat di hadapannya tanpa ia sadari.
 
Saat akan masuk ke dalam kamarnya (no.202) dia sempat menatap jam di tangannya dan menyadari pada jam inilah seharusnya ia pergi dengan Aoi ke festival Tanabata. Ia hanya mampu menatap lama ke pintu kamar Aoi yang terkunci rapat.
---
 
Aoi sudah tiba di tempat festival dan melihat sekeliling mencari keberadaan Sanjou, sampai akhirnya ia mendengar Sanjou yang memanggilnya, ia langsung berlari untuk menghampiri Sanjou.

Setelah berbasa-basi sedikit mereka akhirnya berjalan bersama memasuki area festival.
---



Di kamarnya yang belum tertata sama sekali, Shuusei merebahkan dirinya di atas lantai dengan pikiran yang entah melayang kemana. Entah sudah berapa lama ia terdiam seperti itu sampai tiba-tiba suara bel pintu yang berbunyi berulang kali mengejutkannya.

Ia bangkit dan membuka pintu yang ternyata ada Ryousuke dan Moe disana yang menatapnya dengan wajah begitu kesal. Belum sempat ia bertanya Ryousuke justru langsung mendorongnya dan menghempaskan tubuhnya ke lantai kamarnya.
 
 
“Kau.” Ucap Shuusei sambil menahan sakit.
“Memang mencurigakan.” Ucap Ryousuke begitu kesalnya melihat sikap Shuusei sekarang ini.
“Kau telah berubah! Bukankah menyenangkan bersama Aoi-chan? Kau selalu ingin seperti itu, kan? Itukah yang kau sebut cinta?” teriak Ryousuke yang membuat Shuusei terdiam tak mampu berkata-kata.
 
Moe yang mendengar hal itu terlihat begitu kesal dengan sikap Shuusei yang seperti pengecut sekarang ini padahal jelas-jelas dia mencintai Aoi.
 
“Kau kenapa?! Mengatakan hal yang tak berguna! Jangan menjadi pengecut!” teriak Ryousuke sambil mencengkeram baju yang Shuusei kenakan.
“Lepaskan!” balas Shuusei sambil menepis cengkeraman Ryousuke.
“Diam! Kau!” teriak Ryousuke yang akan memukul Shuusei.
“Jangan berkelahi!” teriak Moe untuk melerai mereka dan berjalan mendekati Shuusei.
 
“Aku tak peduli dengan perasaanmu. Tapi…” Moe mengeluarkan kotak hadiah yang diberikan Shuusei pada Aoi dan menunjukkannya di hadapan Shuusei (kotaknya ditali sama Aoi, mungkin itu artinya dia bener-bener pengen melupakan Shuusei dan tak mau membuka kenangannya lagi saat bersama Shuusei)

“Ini.” Tunjuk Moe di hadapan Shuusei yang membuat Shuusei sedikit tersentak melihatnya.
“Ini menandakan betapa kuatnya perasaanmu, tapi kau malah membuat keputusan yang bodoh. Dengan susah payah kubawa kesini.” Ucap Moe yang berusaha menyadarkan Shuusei.
 
“Sekarang Aoi bersama Sanjou-san! Akulah yang membuatnya pergi bersama.” Ucap Moe yang langsung membuat wajah Shuusei terlihat terkejut sekaligus tak rela.
“Jika Aoi tidak pergi, dia akan selalu berada di bawah bayang-bayang cintamu.” Terang Moe.
 
Shuusei mulai mengerti dan menatap kotak hadiah pemberiannya itu cukup lama, sampai akhirnya ia mengambilnya dari tangan Moe. Ia terus menatap kotak yang sudah diikat Aoi itu dan merasa tak rela jika Aoi sampai melupakannya apalagi harus bersama dengan laki-laki lain selain dirinya. Dengan tatapan penuh tekad untuk memperjuangkan cintanya, ia berlari keluar saat itu juga. Ryousuke tentu saja merasa sangat senang Shuusei bisa mengambil keputusan yang tepat untuk memperjuangkan Aoi dan berlari memanggilnya.
“Kau tak punya banyak waktu!” ucap Ryousuke sambil melemparkan kunci motornya ke arah Shuusei.
“Terima kasih.” Ucap Shuusei setelah menangkap kunci itu dan berlari pergi.
 
Shuusei naik motor dengan kecepatan tinggi untuk menemui Aoi. Ryousuke dan Moe yang mengejarnya sampai ke jalan raya menyemangati agar Shuusei lebih cepat lagi. Moe mengejek Shuusei yang lambat menyadari perasaannya sendiri sambil tertawa. Begitu pula Ryousuke yang membenarkan ucapan Moe barusan. Namun tiba-tiba Moe tersadar, bagaimana caranya mereka bisa sampai di festival sekarang? Ryousuke juga baru sadar jika motornya dibawa Shuusei, terus bagaimana mereka bisa sampai ke festival tepat waktu?
“Apa sih yang kau pikirkan?” teriak Moe frustasi. Hahaha..
Sementara itu, Shuusei melajukan motornya dengan kencang sambil mengingat pesan email yang dikirimkan Aoi dan kenangan yang terjadi di antara mereka selama tinggal bersama.
 

Aku menerimanya.
Memikirkan saat itu, saat bersamamu, hanya sebentar, ya?
Tapi, itu sangat menyenangkan.
Bahkan sekarang, aku bisa merasakan itu adalah saat terbaik dalam hidupku.
Tapi, aku ingin berbicara denganmu lagi.
Menghadapimu dengan benar.
Menyukaimu, tertawa bersamamu. Dan kita hidup bersama. Tapi…
Sudah kuduga, kita tak bisa melakukannya.
Meski tidak bersama… Meski kau tidak mencintaiku…
Aku… Masih mencintai Kugayama Shuusei.
Aku tak akan menangisinya. Aku tak ingin menangis.
-Aoi-


 
Shuusei meneteskan air matanya mengingat semua kebodohannya selama ini yang justru menyia-nyiakan perasaan Aoi dan perasaannya sendiri demi janji bodoh yang ia buat di masa lalu kepada Satsuki. Ia terus memacu motornya dengan kencang.
 
Waktu menunjukkan pukul 7.20 p.m saat Aoi dan Sanjou memutuskan untuk menaiki kincir angin raksasa yang ada di tengah-tengah area festival.
 
Shuusei menerobos kemacetan yang terjadi sepanjang jalan menuju area festival kembang api itu. Ia mulai panic saat jamnya menunjukkan bahwa sekarang acara kembang api akan segera dimulai. Dan terkejutnya ia saat mendengar suara kembang api yang telah dinyalakan bersahutan.
 
Aoi menatap takjub ke arah kembang api yang meledak indah di langit dari atas kincir angin yang dinaikinya bersama Sanjou. “Sungguh indah..” ucapnya kagum melihat semua pemandangan itu dari sana.

Sementara Shuusei yang semakin panic nekat menerobos kemacetan dan bahkan harus berdebat dengan polisi yang mengatur jalan agar dia diijinkan lewat. Namun sia-sia saja karena sang polisi tetap menahannya untuk tak melewati jalur itu. Shuusei yang diburu waktu langsung memarkirkan motornya di tepi trotoar begitu saja dan langsung berlari menuju area festival kembang api, tak mendengar larangan polisi yang sedari tadi berdebat dengannya.
 
Di dalam kincir angin, Sanjou menatap jam tangannya dan mengatakan bahwa ini sudah hampir saatnya pertunjukan utama kembang api berbentuk hati dinyalakan. Aoi meminta maaf dan bertanya pada Sanjou, “Tahun lalu kau ke sini dengan pacarmu?” dan Sanjou menjawab, “Tahun lalu aku berharap bisa ke sini bersamamu.” Aoi jelas saja terkejut mendengar jawaban Sanjou yang tak terduga itu.
Shuusei masih terus berlari menerobos kerumunan orang yang semakin padat untuk melihat kembang api utama yang akan segera dinyalakan.
“Aku mencintaimu.” Ucap Sanjou tiba-tiba yang membuat Aoi terkejut dan tak mampu mengatakan apa-apa.
“Aku sangat mencintaimu.” Tegas Sanjou begitu serius dengan apa yang dikatakannya.
“Aku… ingin lebih dekat denganmu. Karena aku menyukai senyumanmu.” Lanjut Sanjou.
 
Tepat saat itu kembang api berbentuk hati pertama dinyalakan sehingga menciptakan suasana yang begitu romantic. Banyak pasangan yang langsung berciuman saat itu.

Shuusei masih mencari Aoi di tengah kerumunan. Sedangkan Aoi menatap kembang api berbentuk api itu dengan wajah sedih dan mata berkaca-kaca.
 
Sanjou mendekat untuk menciumnya, namun Aoi jutru terisak yang membuat Sanjou mengurungkan niatnya itu. Aoi hanya dapat meminta maaf pada Sanjou. (yah.. Sanjou ditolak…  ampuun deh, keren banget kembang apinya!! Jepang emang DAEBAKK!! Salut buat yang bikin nih film, entah itu perayaan kebetulan atau memang udah scenario yang pasti kembang apinya WOW~)
 
Aoi berjalan dengan gontai menyusup diantara kerumunan yang tengah asyik menatap meriahnya gemerlap kembang api di langit malam itu. Aoi berusaha menguatkan hatinya dan melangkah lebih cepat untuk segera pergi dari sana. Namun tiba-tiba ia mendengar suara teriakan seseorang yang memanggil namanya. Ia menoleh ke belakang namun tak menemukan siapapun yang dikenalnya, sehingga mengira jika itu hanyalah imajinasinya saja dan kembali melangkah pergi. Namun untuk kedua kalinya ia mendengar suara teriakan yang memanggil namanya itu, kali ini terdengar lebih jelas dan ia mencari dimana sumber suara itu berasal.

Begitu terkejutnya Aoi saat melihat Shuusei berlari menyusuri jalan di seberangnya sambil tak henti-hentinya berteriak memanggil namanya. Aoi yang tak kuasa menahan perasaannya segera berlari untuk menghampiri Shuusei, namun karena tak focus melihat jalanan, ia justru menabrak orang lain dan terjatuh.
Aoi meminta maaf pada orang yang ditabraknya, dan pada saat itulah Shuusei menemukan Aoi. Shuusei langsung memanggil Aoi dan akhirnya mereka sudah berhadapan walaupun berseberangan jalan.
 
“Kenapa kau disini?” teriak Aoi tak kuasa menahan isaknya.
“Maaf! Sampai sekarang, maaf! Aku… tidak tahu apa artinya jatuh cinta pada seseorang. Tapi, bukan itu. Aku hanya ketakutan. Kau pasti terpukul. Tapi, aku tidak akan lari lagi!” ucap Shuusei mengakui semuanya.

 
Shuusei berlari untuk menghampiri Aoi begitu pula dengan Aoi. Mereka bertemu di tengah-tengah dan saling berhadapan satu sama lain.
 
 
“Aku… ingin membuatmu tersenyum. Aku ingin menghadapimu dengan benar. Tolong jadilah pacarku!” pinta Shuusei sambil membungkukkan badannya di depan Aoi.
Aoi berjalan mendekati Shuusei dan tiba-tiba saja menampar pipinya.
“Aku tersakiti! Dengan semua emosi ini. Bertahan dengan perasaan ini sendirian. Aku juga lemah! Bahkan frustasi! Tak peduli betapa sakitnya. Meski aku menangis. Aku… tidak bisa melupakan perasaanku. Aku ingin hidup bahagia bersamamu! ” teriak Aoi kembali terisak meluapkan seluruh perasaannya.
Shuusei yang tak sanggup lagi menahan perasaannya hanya langsung memeluk Aoi dengan erat, begitu pula Aoi yang semakin terisak di pelukannya.
 
“Aku akan selalu di sisimu.” Janji Shuusei pada Aoi yang dibalas anggukan setuju dari Aoi.
Cukup lama mereka berpelukan sampai akhirnya Shuusei melepaskan pelukannya dan menatap wajah Aoi yang masih berlinang air mata. Shuusei tersenyum dan mendekatkan wajahnya hendak mencium Aoi.
 
 
Tapi yang namanya Shuusei, melihat Aoi yang memejamkan matanya menunggu Shuusei menciumnya dia malah mengambil ponselnya dan mengambil photo Aoi. Aoi yang sadar dirinya diphoto segera membuka matanya.
 
“Wajah yang ingin dicium.” Goda Shuusei sambil menunjukkan hasil jepretannya.
“Hei, itu jelek, berikan padaku!” ucap Aoi yang kesal sambil berusaha merebut ponsel Shuusei yang jelas saja tak diberikannya.
 
Tiba-tiba saja terdengar suara ledakan kembang api yang membuat mereka berhenti dari pertengkarannya itu.
“Eh, Hampir berakhir?” tanya Aoi sambil terpaku menatap kembang api yang akan meledak di langit.
 
 
“Itu yang terakhir.” Jawab Shuusei yang langsung menarik pundak Aoi dan mencium bibirnya, tepat saat kembang api berbentuk hati terakhir meledak dengan indah di langit malam itu.
 
Mereka saling tersenyum satu sama lain, setelah Shuusei melepaskan ciumannya. Aoi merasakan ada benda asing yang menempel di lehernya dan merabanya. Ternyata itu adalah kalung bintang yang diberikan Shuusei untuknya. Ia tak sadar jika Shuusei memakaikan kalung itu saat mereka sedang berciuman tadi.
 
 
 
Aoi menatap tak percaya pada Shuusei, dan mereka saling tersenyum satu sama lain sebelum akhirnya Aoi memeluk Shuusei dengan wajah dipenuhi kebahagiaan.


[The End]
Pada akhir film ini kita dapat melihat isi kertas permohonan yang digantung Aoi di pohon bamboo yang berada di depan rumah apartementnya dan Shuusei.
 
Isi permohonan Aoi :
Semoga kita bisa terus tertawa bersama!!
[Aoi  Shuusei]



Author Sinopsis : Riska Laraswati
Fb. Riyuki Minakawa

---

Pics:


 
 

 
 
 





Author Notes:
HAAAHH….!!! Akhirnya selesai juga sinopsisnya..  panjaaaang sekali yaa, harap maklum! Ini adalah proyek pertamaku bikin synopsis lengkap plus full gambar, jadi jika kata-katanya masih sulit dipahami mohon dimaafin!
Di film ini ada banyak hal yang bisa dijadikan pelajaran. Yang pertama yaitu tentang hubungan kakak-adik (Usai-Shuusei). Awalnya aku pikir Usai itu orang yang suka seenaknya sendiri dan tak peduli sama perasaan orang lain, tapi ternyata dia begitu sayang kan sama Shuusei? Aku berpikir mungkin Usai bersikap seperti itu untuk melindungi Shuusei. Karena mereka berasal dari keluarga broken home, ia tak ingin membebani Shuusei dengan bersikap sok dewasa dan berusaha melindunginya. Usai punya cara tersendiri untuk menunjukkan rasa sayangnya pada adiknya itu, salah satunya yaitu dengan membantunya mengatasi Satsuki karena dia memahami beban yang ditanggung Shuusei selama ini sendiri.
Dia ingin Shuusei bangkit dari masa lalunya agar bisa menyambut masa depannya sendiri. Sepertinya aku mulai paham kenapa dia mencium Aoi waktu itu, dia ingin melihat apakah Shuusei benar-benar suka atau tidak dengan Aoi. jika Shuusei bersikap biasa saja berarti memang tak ada apapun diantara mereka, tapi yang terjadi justru Shuusei begitu marah dan murka padanya karena mencuri ciuman pertama gadis yang disuka Shuusei. Maka itu ekspresi Usai terlihat begitu menyesal saat itu. Aku jadi sedikit bisa menyukai Usai (bener-bener dikiit aja loh yaa.. soalnya tetep masih kesel sama karakternya dia!)
Dan yang kedua yaitu hubungan persahabatan Aoi dan Moe. Aku bener-bener salut sama persahabatan mereka yang tetep terjalin erat sampai akhir. Walaupun Moe-lah yang suka dengan Shuusei pada awalnya, namun ia justru merelakan Shuusei dengan Aoi dan bahkan membantu menyatukan mereka. Itu pemikiran yang benar-benar tak egois yang butuh hati lapang untuk melakukannya. Aku beranggapan jika Moe ini bersikap rasional dalam menjalani hidup. Dia yang tahu bahwa cintanya bertepuk sebelah tangan dan bahkan sudah ditolak mentah-mentah oleh Shuusei berusaha untuk melanjutkan hidup tanpa harus berangan-angan semu mengharapkan Shuusei lagi. Dia justru melihat jika Aoi lebih berkesempatan dibanding dirinya untuk bisa mendapatkan Shuusei, dan dengan ikhlas menyemangati Aoi sebagai seorang sahabat untuk mengejar cintanya sendiri. Jadi aku begitu seneng di akhir cerita dia udah sama Ryousuke. Bukanlah orang yang patah hati, namun sebagai orang yang menemukan cinta baru!
Yang ketiga tentang masa lalu Shuusei. Entah kenapa aku gregetan banget lihat sikap Shuusei yang seakan tak bisa menentukan pilihan lebih awal. Tapi aku mulai bisa memahami perasaan lain selain tentang janjinya pada Satsuki di masa lalu. Pada awalnya aku mengira dia begitu hanya karena memegang teguh janji yang sudah terlanjur diucapkannya pada Satsuki di masa lalu. Namun di akhir cerita akhirnya aku mulai memahami tentang rasa ketakutannya untuk menjalin sebuah hubungan dengan gadis manapun.
Ada dua kemungkinan yang bisa ku prediksi untuk menjawab kenapa Shuusei begitu ketakutan. Yang pertama yaitu dia takut memulai hubungan karena berkaca pada hubungan keluarganya sendiri yang telah hancur dan kurang kasih sayang itu. Yang membuatnya trauma untuk membuat hubungan baru. Dan yang kedua adalah dia takut untuk membuat hubungan dengan Aoi karena tak ingin mengulang lagi masa-masa pacarannnya dengan Satsuki dahulu yang ternyata penuh dengan pengekangan. Dia takut jika nanti punya pacar, maka ia harus mengalami hal yang sama seperti dulu. Dari kedua opsi, silahkan saja pilih mana yang paling masuk akal.. klo aku sih nebak dua-duanya aja kali yaa.. haha..
Yang jelas, aku puass banget sama ending film ini . Romantic-nya dapeeeet bangeeet!!! Dan feel-nya juga ngena! Haha.. jadi bikin aku pengen ke Jepang buat nonton kembang api Love secara langsung… Amiiiiiinnnnnn!!! (yang ngaminin gw doa’in bisa ngikut juga ke Jepang! ^_^ )
Akhir kata dari saya beserta redaksi yang bertugas (apa ini) mengucapkan banyak terima kasih buat yang udah mau mampir dan baca. Jangan lupa kritik dan sarannya untuk semakin memacu saya agar lebih baik lagi ke depannya dalam menulis.
And please.
NO COPAS WITHOUT PERMITION!
HARGAILAH YANG BIKIN!
Byee~~ ^_^ 